Benarkah Kuningan Adalah Padjadjaran Yang Hilang?

Benarkah Kuningan Adalah Padjadjaran Yang Hilang?

Rabu, 27 Maret 2019, Maret 27, 2019

Kuningan (SATU) - Perbincangan mengenai sejarah keberadaan Keraton Padjajaran yang selama ini terdapat di Bogor, membuat tokoh masyarakat Kuningan angkat bicara. Setelah mendalami dari berbagai aspek bukti sejarah, seorang penggali sejarah yang juga mantan Sekda Kuningan, H E Madrohim didampingi putranya, Adi Sri Chandra serta pemerhati sejarah, Syarif Juanda, menyimpulkan, letak Keraton Padjajaran sesungguhnya berada di Kuningan.
Menurut sesepuh Kuningan sekaligus sebagai sesepuh susuhunan luhur mulya, HE Madrochim melalui putranya, Adi Sri Chandra, keraton yang juga disebut sebagai Pararaton Panca Padjadjaran Ing Medang Kamuliaan Kuningan Salakadomas (Tempat Para Dewa/Kahyangan) itu sudah saatnya kembali digali oleh masyarakat Kuningan sendiri, bahkan harus diketahui oleh khalayak.
“Nama Keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati adalah Nama Keraton di Tatar Sunda pada zaman buhun yang sudah tidak asing lagi di masyarakat Jawa Barat,” kata Adi Sri Chandra diamini adik kandung Laksma. Syarif Husin, Syarif Juanda.
Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati kata Adi, merupakan lima Keraton besar yang berjajar dari arah utara ke selatan yang terbagi oleh garis tengah terusan sungai Cilengkrang Kurucuk di kaki Gunung Ciremai sebelah Timur. 
“Wilayah inilah yang terletak di Kabupaten Kuningan Jawa Barat dan itu pula yang dimaksud dengan Padjadjaran,” tegasnya.
Lebih lanjut Adi memaparkan, Keraton Padjadjaran adalah Keraton yang mengemban dan memandu Panca Pandawa Keraton Susuhunan Penguasa Jagat Pati. Inilah yang dikatakan Pakuwuan/Pakuan, tempat kedudukan Pusar Lingga Kerajaan sebagai tempat bersemayamnya Yang Agung Yang Dimuliakan, Sri Baginda Maha Raja Ismaya (Sang Hyang Bhatara Ismaya) Sri Badranaya Kartika Sakti Kerta Wibawa Sakti Mandraguna, atau dikenal dengan nama  Aki Cirem.
“Tiap Keraton tersebut mengandung pengertian berbeda, Keraton Sri Suradipati adalah bermakna sebagai Keraton Induk yang berkedudukan di Winduherang sebagai Pusat Dayeuh Sundapura dengan Sri Baginda Maha Raja Ismaya sebagai Sang Maha Mentri, Pusat Pemerintahan Jagat Pati,” tegasnya.
Menurutnya, Keraton Sri Bima berkedudukan di Lingga Jati (sekarang Objek Wisata Pemandian) yang mana sebelumnya berkedudukan di Winduherang. Keraton Sri Punta Pertama berkedudukan di Balong Dalem Jalaksana (sekarang Objek wisata Balong Dalem), kemudian berpindah ke Cipari (Sekarang Museum Purbakala). Selanjutnya, Keraton Sri Narayana pertama kali berkedudukan di Cijoho (Sekarang Leles belakang LP) yang kemudian lokasinya berpindah ke Manis Kidul (sekarang Objek Wisata Cibulan). Sementara, Keraton Sri Madura berkedudukan di Cigugur (sekarang Objek wisata Pemandian Cigugur).
“Keraton Padjadjaran itu beberapa kali mengalami perpindahan tempat, namun tidak berpindah ke lokasi lain (hanya perubahan nama) dengan tanpa merubah arah lokasi, atau tetap berjajar dari arah Utara ke Selatan, dibawah kaki Gunung Ciremai sebelah Timur. Hal itu terjadi pada masa Taruma Negara/Jagat Pati, yaitu zaman Kala Ruba berkisar tahun 400-500 sebelum masehi,”paparnya.
Selain itu tutur Adi, Keraton Sri Bima awalnya berkedudukan di Keraton Sri Suradipati (Winduherang), kemudian pada zaman Wisnu Warman/Raden Kandyawan memindahkan Keratonnya ke Medang Jati-Medang Sana atau sekarang wilayah Lingga Jati dan Lingga Sana. Tempat ini tetap bernama Keraton Bima. Sementara, Keraton Sri Sura Adipati berkedudukan di Winduherang yang dijadikan sebagai Keraton Induk/Pusat.
“Raden Kandyawan atau Pangeran Sura Liman Agung yang bergelar Sri Baginda Maha Raja Wisnu Warman Jagat Pati merupakan putera Sri Purnawarman alias Pangeran Arya Adipati Ewangga yang bergelar Raja Resi Dewaraja atau Dewangga,”terangnya.
Sebagai pelengkap kada Adi, berikut nama-nama Raja yang bertahta di tiapKeraton masing-masing. Keraton Sri Sura Adipati diantaranya, Sri Baginda Maha Raja Purnawarman Jagatpati/Pangeran Arya Adipati Ewangga/Sura Liman Sakti/Raja Resi Dewa Raja, Sang Hyang Batara Wisnu/Raden Kandyawan/Pangeran Arya Adipati Sura Liman Agung/Sri Baginda Maha Raja Wisnu Warman Jagat Pati Kusuma,          Sang Rama Jaksa Pati Kusuma/Sang Pandawa/Rama Wijaya/Sri Baginda Maha Raja Candra Warman dan Raden Demunawan /Sri Maha Prabu Resi Guru Saweukarma.
Kemudian, Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Bima, diantaranya yaitu Sri Baginda Maha Raja Wisnu Warman/Sang Hyang Batara Wisnu/Begawan Sat Mata/Sang Layuwatang, Pangeran Lingga Kusuma Yuda/ Sri Baginda Raja Lingga Warman, Maha Prabu  Tarusbawa (Tohaan), Sri Maha Raja Haris Darma Yuda/Sanjaya dan Sri Maha Prabu Raden Darma Siksa/Prabu Guru Darma Siksa Para Amarta Sang Maha  Purusa (Titisan Batara Wisnu).
Adapun Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Punta pertama saat berkedudukan di Jalaksana (Balong Dalem) diantaranya yaitu, Raden Mandi Minyak (Jala Antara),           Raden Brata Senawa/Sena (Hantara) dan Raden Wijaya Kusuma/Purba Sura. Kemudian, Raja-Raja yang Bertahta di Keraton Sri Punta ke dua saat berkedudukan di Cipari diantaranya yaitu, Raden Wijaya Kusuma/Raden Purbasura, Raden Permana Dikusuma Ajar Padang Sukaresi Begawat Sajala-jala dan Raden Surotoma/Ciung Wanara atau Arya Santana.
Terdapat pula, Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Narayana pertama yang berlokasi di Cijoho (Leles belakang LP) diantaranya yaitu, Sang Pandawa/Sri Baginda Maha Raja Candra Warman/ Rama Wijaya/Begawan Nara Pati Wasu Brata. Keraton ini dijadikan sebagai pusat keraton Galuh Pakuan yang mana beliau bergelar Prabu Anom/H. Alit.
Kemudian, Keraton tersebut pindah ke Cibulan yang sekarang sebagai Objek Wisata Pemandian. Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Narayana Cibulan diantaranya yaitu, Sang Rama Wijaya/Dharma Kusuma/ Sri Baginda Maha Raja Candra Warman, Sang Maha Prabu Wretikandayun/ Raden Sri Sura Dharma, Sang Purba Wisesa/Sang Haliwungan dan Sri Baduga Jaya Ratu Haji, yang sekarang kita kenal dengan nama Prabu Siliwangi.
Terakhir, Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Madura saat berkedudukan di Cigugur (Sekarang Objek Wisata Kolam Pemandian) diantaranya yaitu, Sri Maha Prabu Wretikandayun/ Raden Sri Sura Dharma, Sri Maha Raja Haris Dharma Yhuda/Raden Sanjaya, Raden Tamperan Bramawijaya, Raden Kamarasa Arya Banga Sang  Jaya Jago dan Raden Surajaya Wisesa/Prabu Guru Gantangan/Ratu Sang Hyang/ Ki Gedeng Kuningan.

TerPopuler