Hati-hati Dengan Pinjaman Online

Hati-hati Dengan Pinjaman Online

Jumat, 16 Agustus 2019, Agustus 16, 2019

Kuningan (SATU) - Aplikasi peminjaman uang berbasis android (Fintech) nampaknya tengah menjadi sebuah trend di tengah-tengah masyarakat saat ini. Berbagai nilai pinjaman dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah dapat dengan mudah dipatkan tanpa harus melangkah keluar rumah.

Sayangnya, fenomena aplikasi pinjaman seperti ini ternyata memiliki hal negatif yang terkadang tidak diketahui oleh masyarakat, mulai dari bunga yang begitu tinggi, cara penagihan, hingga keamanan data-data yang diberikan melalui berbagai aplikasi yang bisa diunduh di ponsel pintar.

Untuk mendapatkan pinjaman uang melalui berbagai aplikasi tersebut sangatlah mudah, cukup dengan memasukan data diri dengan disertai foto kartu identitas dan sebagainya yang diambil melalui kamera ponsel pintar masyarakat yang ingin meminjam.

Namun hal tersebut justru menjadi hal negatif yang paling utama karena dengan memasukan data diri melalui aplikasi tersebut, tidak ada yang bisa menjamin bahwa data yang dimasukan melalui aplikasi tidak akan disalahgunakan untuk kepentingan lain.

Menanggapi adanya fenomena tersebut, Direktur Utama Perumda BPR Kuningan, Dodo Warda, SE mengingatkan kepada masyarakat khususnya di Kabupaten Kuningan agar jangan cepat tergiur dengan hal-hal demikian, karena tidak menutup kemungkinan akan ada dampak yang mungkin akan sangat merugikan di kemudian hari.

"Hati-hati kalau mau meminjam di aplikasi pinjaman online, karena tidak ada yang bisa menjamin data yang kita masukan tidak akan disalahgunakan, apalagi jika aplikasi tersebut ilegal dan belum terdaftar di OJK," ujar Dodo ketika ditemui kuningansatu.com di ruang kerjanya belum lama ini.

Beberapa kasus yang terjadi, kata Dodo, justru data peminjam banyak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, khususnya jika memasukan data diri ke aplikasi yang ilegal. Contohnya, beberapa kasus yang ditemukan adalah si pemilik data tidak merasa disetujui peminjamannya di salah satu aplikasi, namun tiba-tiba memiliki pinjaman di aplikasi yang lain.

"Banyak yang kejadian dimana masyarakat tidak merasa pinjamannya disetujui, namun tiba-tiba ada pemberitahuan memiliki pinjaman di aplikasi yang lain, nah itu berarti ada penyalahgunaan data," katanya.

Selain itu, kata dia, bunga yang begitu mencekik dan jangka waktu peminjaman yang relatif sangat singkat membuat beberapa nasabah pinjaman online justru menjadi sangat terbebani apalagi jika ada keterlambatan pembayaran dengan denda yang tidak kalah besarnya.

"Suku bunga pinjaman online itu rata-rata sangatlah besar, begitu pula denda keterlambatan, terlebih jangka waktu pinjaman yang juga sangat cepat," terang dia.

Hal lain yang juga menjadi sebuah permasalahan adalah sistem penagihannya yang dirasa sangat mengganggu tidak hanya kepada nasabah tapi juga orang-orang di sekitarnya.

Banyak sekali kejadian dimana orang-orang di sekitar nasabah pinjaman online justru menjadi sasaran penagihan dari deskcollector pinjaman online melalui telepon. Hal tersebut ternyata karena secara diam-diam aplikasi pinjaman online juga mengambil berbagai data yang ada di ponsel nasabah seperti kontak, sehingga ketika terjadi keterlambatan, seluruh nomor handphone yang ada di ponsel nasabah akan dihubungi.

"Tidak jarang banyak nasabah yang merasa malu karena keterlambatan pembayaran pinjaman, justru penagihannya kepada orang-orang di sekitar yang tersimpan nomor kontaknya di ponsel, apalagi terkadang penagihannya itu secara tidak beretika," ungkap dia.

Sebagai orang yang bergerak dalam bidang keuangan dan perbankan, Dodo hanya bisa menyarankan agar berhati-hati dan jangan sembarangan mengajukan pinjaman dengan berbasis online karena disamping kemudahan dalam mengakses pinjaman, banyak juga hal-hal negatif yang timbul di kemudian hari.

.imam


TerPopuler