Keluh Kesah Operator Data Sekolah di Kabupaten Pendidikan

Keluh Kesah Operator Data Sekolah di Kabupaten Pendidikan

Sabtu, 03 Agustus 2019, Agustus 03, 2019
Kuningan (SATU) - Menjadi Operator Data Sekolah merupakan sebuah kebanggan bagi sebagian orang. Namun dibalik rasa bangga tersebut ternyata tersimpan banyak keluh kesah yang dirasakan.

Hal tersebut mungkin dialami oleh seluruh operator data sekolah di Indonesia ini termasuk di Kuningan yang didaulat sebagai salah satu Kabupaten Pendidikan.

"Nasib jadi Opertor Data di Sekolah membuat banyak dari kami menjadi galau tingkat tinggi," kata FR, salah satu operator data sekolah dasar di Kabupaten Kuningan kepada kuningansatu.com, Jum'at (2/8/2019).

Kata FR, tidak jarang operator sekolah juga mendapatkan tekanan dari para guru bersertifikasi dan kepala sekolah. Ada beban moral operator agar mengisikan data-data secara benar dan tepat waktu.

Operator sekolah saat ini jadi kunci pengelolaan data pada Dinas Pendidikan, terkait dengan pengintegrasian seluruh data pokok pendidikan (dapodik) ke dalam sebuah aplikasi. Peran dan tugas tersebut sangat penting karena menyangkut pendataan tingkat sekolah yang harus bisa dipertanggungjawabkan.  Data itulah yang dipakai Kemdikbud untuk perencanaan dan evaluasi program pendidikan.
Bahkan, imbuh FR, peng-input-an data yang dilakukan oleh para operator data sekolah menjadi tum­puan program BOS, DAK, subsidi BSM dan berbagai tunjangan untuk pendidik dan tenaga kependidikan (PTK). Termasuk yang terkini adalah penerbitan surat keputusan tunjangan sertifikasi (SKTP) bagi PTK yang bersertifikat pendidik guna pencairan dana sertifikasi.

"Boleh dibilang kami ini jadi ujung tombak," ujar FR.

Pada dasarnya kata FR tugas pokok operator sekolah yaitu menyebarkan formulir pendataan kepada sekolah, PTK, dan peserta didik dalam rangka pengumpulan data untuk dimasukkan ke dalam aplikasi, memasukkan data sesuai dengan yang terisi di formulir pendataan, dan mengirim data itu ke server melalui aplikasi dapodik.

Namun, lanjut FR, perlu diketahui, ketika malam yang lain terlelap tidur, seorang operator  ha­rus bangun sekadar menunggu validasi melalui sinkronisasi data apli­kasi. Hampir tiap malam bega­dang untuk meng-input dan mengecek status data. Andai ada kesalahan data, misal karena masalah teknis, PTK tak mau tahu, dan selalu menyalahkan. Padahal apa yang didapat operator secara finansial tak sebanding dengan tugasnya.

"Jam kerja operator data itu bisa dibilang 24 jam, tidak hanya di sekolah, bahkan di rumah pun masih tetap bekerja. Sangat jauh jika dibandingkan dengan nilai finansial yang kita dapatkan saat ini," keluhnya.
Kesenjangan kesejahteraan sangat terasa atau bisa dikatakan sebagai ketidakadilan sistim bila melihat para guru bersertifikasi di sekolahnya yang menerima gaji tetap tiap bulan ditambah tunjangan profesi sebesar satu bulan gaji. Namun masih banyak operator sekolah yang mendapat gaji di bawah upah minimum regional.

Nasib para operator sekolah data sekolah pun semakin tidak menentu karena sampai saat ini statusnya tidak memiliki payung hukum yang jelas.

"Bagaimana, dan seperti apa nasib kami ke depan masih belum jelas, terlebih belum ada payung hukumnya," paparnya.

Beberapa rekan FR sesama operator data sekolah pun sempat berfikir untuk mundur dari posisi sebagai operator, namun ternyata beban moril yang begitu besar kembali mengurungkan niat mereka untuk mundur.

Sebagai bagian dari masyarakat Kuningan yang didaulat sebagai Kabupaten Pendidikan, FR bersama rekan-rekannya yang lain hanya berharap agar pemerintah dapat memberi kejelasan perihal status mereka sebagai operator data sekolah.

"Kami cuma ingin kejelasan status, siapa yang menaungi kami sebagai operator data sekolah agar ke depan setidaknya kami masih memiliki harapan," katanya.

.imam



TerPopuler