Kisah Sutini dan Nasi Aking

Kisah Sutini dan Nasi Aking

Rabu, 28 Agustus 2019, Agustus 28, 2019

Kuningan (SATU) - Kemiskinan di Kuningan ini rupanya tidak hanya menjadi permasalahan di wilayah pinggiran atau pedesaan saja. Ternyata tepat di jantung kota kuda ini juga tersimpan sekelumit cerita tentang kemiskinan seorang lansia bernama Sutini (85), yang mungkin selama ini kurang terperhatikan oleh banyak pihak.

Sutini yang tinggal bersama keponakannya tersebut kini menghuni sebuah rumah di Gang Baru, Rt. 004/004, Lingkungan Dago, Kelurahan Cijoho, Kecamatan Kuningan.

Di masa tuanya ini, cukuplah miris melihat kondisi surtini yang tinggal bersama keponakannya dan terpaksa menanggung getirnya hidup karena baik dirinya maupun keponakannya memiliki nasib yang tidak jauh berbeda terkurung dalam lingkaran kemiskinan.

Kisah hidup Sutini ini terkuak bermula dari postingan media sosial milik DT Peduli Kuningan. Saat itu, DT Peduli memberi bantuan stimulan berupa sembako dan uang tunai sembari menceritakan kondisi kehidupan Sutini. Guna memastikan hal tersebut, awak media mencoba menemui Sutini, Rabu (28/08/2019).

Miris memang, karena kondisinya tersebut, terkadang Sutini terpaksa harus makan nasi aking apabila persediaan beras dan uang yang dimilikinya sudah habis.

“Terkadang kami terpaksa makan nasi aking kalau persediaan beras dan uang sudah habis. Ponakan saya menjadi tulang punggung di rumah ini. Ia bekerja sebagai buruh lepas. Ya namanya buruh lepas, kerjanya juga tidak tentu. Kalau ada yang nyuruh ya kerja. Kalau tidak ya tidak ada pemasukan untuk belanja kebutuhan rumah tangga, termasuk beras,” ungkap Sutini.



Dirinya mengakui bahwa setiap bulan ada bantuan beras sebanyak 8,5 kg dari pemerintah, namun semua itu tidak mencukupi untuk kebutuhan makan 5 orang anggota keluarga selama satu bulan.

“Jika ada uang kami bisa beli beras tambahan. Tapi kalau tidak ada barulah kami makan nasi aking yang dari nasi sisa itu kita jemur. Itu hanya untuk ketika beras sudah benar-benar habis dan tidak ada uang baru kita masak nasi aking buat dimakan,” katanya.

Dirinya juga tidak menampik jika selama ini ada tetangga atau warga yang sedang menggelar resepsi hajat  terkadang memberi sisa nasi. Nasi ini oleh Sutini dan istri dari keponakannya kemudian dijemur untuk nanti dijadikan persediaan saat benar-benar terdesak.

“Kadang tetangga suka ngasih nasi sisa itu biasanya kita jemur. Kalau ada uang dan ada beras nasi sisa itu dikasih ke orang lain untuk makanan ayam. Tapi kalau lagi tidak ada ya terpaksa kita masak untuk makan,” ungkapnya.

Sementara itu, istri almarhum ketua RT setempat Enok, saat ditemui menjelaskan bahwa dirinya tidak mengetahui jika ada warganya yang makan nasi aking. Sementara sepengetahuannya, keluarga Sutini memang sudah mendapat bantuan beras setiap bulannya.

“Saya kurang tahu kalau keluarga Ibu Sutini sampai makan nasi aking. Setahu saya mereka sudah mendapatkan jatah beras setiap bulannya,” kata Enok.

Enok pun menuturkan bahwa berita yang tersebar di media sosial itu tidak semuanya benar. Sebab ada beberapa hal yang tidak sesuai kenyataan, salah satunya adalah tentang tinggal di rumah gubuk.

“Saya kaget membaca berita itu. Dan berita itu tidak semuanya benar. Tempat tinggalnya bukan rumah gubuk. Tapi sudah semi permanen karena dulu pernah mendapatkan bantuan, tapi memang baru sebagian. Hanya ruangan kamar, dapur dan kamar mandi yang masih beralaskan tanah,” tuturnya.

Sedangkan Kepala Kelurahan Cijoho Suharto, saat ditemui ia sedang tidak ada di kantor. Ketika dikonfirmasi melalui saluran telepon dirinya mengaku belum mengetahui kejadian tersebut.

Ia pun berjanji akan sesegera mungkin berkordinasi dengan pihak RT setempat, “Saya baru dengar ada kejadian ini. Secepatnya saya akan berkordinasi dengan RT setempat,” tandasnya.

.imam

TerPopuler