Potret Miris Keluarga Sartono

Potret Miris Keluarga Sartono

Senin, 26 Agustus 2019, Agustus 26, 2019

Kuningan (SATU) - Akibat tersengat listrik 4 tahun silam, Sartono yang merupakan warga Dusun Pasir Tengah RT. 03 RW. 01 Desa Karangkamulyan Kecamatan Ciawigebang harus rela hidup dalam segala kekurangan.

Bekas luka bakar memenuhi hampir seluruh bagian tubuhnya, terlebih akibat kecelakaan tersebut, tempurung kepalanya pun menjadi berlubang yang membuat dirinya harus menahan sakit hampir setiap hari. Tidak hanya itu, sejak 2 tahun terakhir Sartono pun harus rela kehilangan pengelihatannya yang membuat hidupnya semakin tidak berdaya.

Selain luka fisik, setelah kecelakaan yang membuat kehidupannya terpuruk itu, Sartono juga mengaku harus rela diusir oleh istrinya tanpa alasan yang jelas. Kini dengan segala keterbatasan untuk menjalani kehidupan, Sartono pun harus rela tinggal di sebuah rumah tidak layak huni milik kerabat jauhnya bersama sang ibu yang sudah tua renta dan dalam kondisi lumpuh.

"Saya dulu tinggal di Cilebu di tempat istri. Saya ga tau kenapa setelah kecelakaan itu saya disuruh pulang oleh istri saya, padahal saya ga ribut apalagi berantem, rumahtangga saya baik-baik aja," ungkap Sartono.



Dalam ketidakberdayannya Sartono harus mengurus keperluan Ibunya. Mulai memasak nasi hingga menyiapkan makan harus ia lakukan setiap hari. Tongkat alakadarnya menjadi alat bantu Sartono untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Meski memiliki saudara kandung, Sartono mengaku saudaranya tak mau menerima dia. Untuk makan sehari-hari, Sartono dan ibunya hanya mengandalkan belas kasihan orang lain terutama tetangganya, namun para tetangga hanya bisa membantu sekedarnya.

Jika tak ada lauk pauk, Sartono dan ibunya hanya makan dengan garam, bahkan tak jarang hanya nasi saja. Sempat ia dan ibunya tidak makan nasi selama 3 hari karena tidak memiliki beras, beruntung ada kerabatnya yang memberi singkong untuk sekedar menjadi penunda lapar.

"Pernah saya tidak makan nasi selama tiga hari karena tidak ada beras. Mau minta ke tetangga malu. Tapi setelah tiga hari saya ga kuat, perut saya perih jadi saya terpaksa minta bantuan tetangga baru bisa makan," ujar Sartono sambil menitikkan air mata.

Pengurus RT dan RW setempat sudah sering berupaya membantu Sartono dengan mengajukan kepada Pemerintah Desa, namun mereka hingga kini belum ada tanggapan positif dari pihak aparat desa setempat.

"Kami sudah sering mengajukan bantuan untuk Sartono ke pemerintah desa, tapi hingha kini belum ada tanggapan yang positif," ungkap Uus, ketua RW 01.

Sempat dalam waktu 5 bulan Pemerintah Desa memberikan bantuan beras, namun sejak 2 bulan lalu bantuan terhenti. Saat dikonfirmasi, Pemerintah Desa mengaku bahwa bantuan untuk Sartono bukan dihentikan melainkan ada keterlambatan dalam pendistribusian dari pusat.

"Bukan dihentikan, tapi ada keterlambatan penyaluran dari pusat," ungkap Jahidi, Kaur kesra Desa Karangkamulyan.

Sartono kini hanya bisa berharap agar dirinya bisa berobat dan tinggal dengan ibunya ditempat yang layak huni serta dengan ketersediaan pangan yang cukup.

.imam - .rls

TerPopuler